Sabtu, 29 Oktober 2011

SALATIGA DALAM KENANGAN (FINAL)

Hari terakhir di kota Salatiga kupuaskan dengan sarapan soto khas kota tersebut. Akhirnya kesampaian juga, walaupun agak telat bangun tapi penting bisa menikmati juga. Kami sarapan sudah jam 08.00 pagi. Soto daging yang kupilih sudah habis, tinggal soto ayam. Akhirnya aku memilih soto (tanpa daging) dan 2 tempe gorenga dan kerupuk gendar. Sebenarnya soto ini biasa rasanya, mirip dengan soto kudus, dimana nasinya dicampur langsung ke mangkuk soto. Yang membuat beda menurutku adalah rasa tempe gorengnya. Awalnya aku ragu-ragu untuk mengambil tempe yang bentuknya tebal, karna menurutku pasti bumbunya gak meresap, dan lagi aku lebih menyukai tempe yang tipis kering, lebih enak, ternyata apa yang kurasakan benar-benar sensasi. Tempe yang tebal itu masih terasa bumbunya. Mantaaapp..!! Sungguh sarapan yang sangat mengenyangkan..:)))

Sempat jengkel saat itu, karna kami harus check out jam 12.00 dari hotel, tapi Ariz belum jemput.Sungguh mata sudah mulai tidak konsen lagi karna terlalu lama menunggu. Akhirnya jam 12 kurang dikit dia tiba. Dan tempat pertama yang kami kunjungi adalah pusat oleh-oleh salatiga. Aku baru tahu kini ternyata enting-enting gepuk klenteng itu berada tepat didepan klenteng. Lumayan besar dan ramai sekali.

Selanjutnya kami diajak ke Bukit Cinta Ambarawa. Sebenarnya jalan-jalan di salatiga itu sepertinya muter-muter aja, tapi kenapa pas tiba asing semua?Bukit cinta yang kami kunjungi kurang bagusa, gak ada apa2nya. Dengan membayar karcis Rp.3500,-/org, kami hanya disuguhi sebesar lapangan bola kurang sedikit, dikelilingi rawa dan rumah-rumah penduduk. Menurutku yang membuat tempat itu manis hanyalah pohon-pohonnya yang bagus itu, selebihnya tidak ada.

Tak buang waktu kami segera menuju Senjoyo nama daerahnya. Disinilah katanya sumber mata air yang diambil PAM yang mengalir ke Salatiga. Airnya sangat bening sekali, ada dam yang besar, sayang sekali penduduk sekitar banyak juga yang mencuci pakaian disitu, tapi menurut beritanya sih ada filternya, jadi biarpun dipakai cuci tetapa tidak akan kotor karna ada filternya. Tempat ini dikelilingi hutan. Tidak begitu menarik menurutku. Kami dibelikan gorengan yang ntah apa namanya lupaa, isinya itu rumput-rumputan, aneh tapi enak juga, jadi mirip bakwan.

Waktu masih panjang, keretaku berangkat masih tengah malama. Kami diajak ke Desa Banyu Biru, melewati sawah-sawah yang menghijau, cantik sekali dipadankan dengan gunung yang menjulang kebiruan, benar-benar indah. Kami berhenti untuk berpose, tak peduli lha dengan orang-orang yang lewat. Benar-benar masih pedesaan. Rasanya ingin berlama-lama disitu, tentu tidak mungkin.Cukup puas dengan berfoto-foto ria..

Karna Ariz ingin menjemput Panjoel, maka kami didrop di kafe asri, outdoor dan hijau, disini kami istirahat sejenak melegakan tenggorokan dengan Frappe Moccachino Ice. Hmmmm...indahnya hidup ini, dilewati dengan kebersamaan antara kami para wanita.

Hari sudah senja, langsung saja kami menuju Semarang. Namun sayang Tika tidak dapat ikut bersama kami. Kami makan malam Sate Pak Kempleng Ungaran. Ini adalah makanan khas Ungaran. Katanya ini adalah sate daging sapi yang sudah direndam dalam susu, sehingga saat dibakar rasanya akan lembut dan meresap banget bumbunya. Dengan pedenya kami pesan masing-masing seporsi. Saat aku mencobaa rasanya, betapa kagetnya aku..benar enaka, benak lembut, tapi manis sekali bumbunya. Waduh..bagaimana menghabiskannya? Ternyata yang lain juga tidak dapat menghabiskannyaa..HAHAHAHA...akhirnya sate tersebut dibungkus bagi dua, aku dan Ariz yang bungkus. Kalau aku boleh memilih, lebih baik kembali ke Sate Madura lebih pas..hehehehe.

Kami harus berpisah dengan Echa. Dan kami melanjutkan perjalanan ke Semarang. Saat jalanan menurun, aku melihat pagoda menjulang tinggi cantik sekali dengan lampu-lampunya..sayang sekali, kami tidak bisa masuk karna itu tempat sembahyang, dan lagi sudah tutup karna sudah malam. Aku hanya bisa menikmati keindahannya sampai aku tidak dapat melihatnya lagi. Benar-benar cantik..tak akan kulupakan.

Akhirnya kami tiba di Gombel. Tempat yang romantis sekali. Mengingatkanku pada KFC Fried Chicken Puncak. Jika siang hari, nampak seluruh kota Semarang dan tepian laut. Tapi malampun gak kalah menarik, karna lampu-lampu yang bertaburan bagaikan cahaya bintang. Namun sayang kamera kami kurang oke untuk mengambil foto suasana saat itu. Satu hal yang selalu ingin kulakukan jika berada pada ketinggian dengan suasana seperti itu, ingin rasanya berteriak apa aja, rasanya tuh lepas banget. Tapi karna banyak orang pacaran, jadinya aku mengurungkan niatku.

Setiba kami di Semarang, tempat pertama yang kami serbu adalah Juwana, pusat oleh-oleh semarang..:)) sebenernya sudah banyak membeli oleh-oleh saat di Salatiga, tapi rasanya ada yg kurang klo tidak beli di semarang. Setelah itu, karna masih ada sisa waktu sampai kereta datang, kami berfoto di lapangan Tugu Muda. Namun karna Panjoel sedang sakit, dia tinggal di mobil, Evipun tidak ingin ikut, sehingga akhirnya aku dan Ariz saja yang pergi. Ternyata Lawang Sewu itu berada didepan lapangan tersebut. Benar-benar seram sekali bangunan itu. Tidak ada cahaya sedikitpun. Tugu Muda ini juga tempat yg cukup ramai dengan jam yang cukup malam. Aku kini tahu bahwa Semarang mungkin adalah kota kedua setelah Jakarta yang tidak cepat terlelap.

Akhirnya..finally..I must go..Aku harus pergi..sempat kesel karna pengantar gak bisa masuk ke peron. Tapi akhirnya kami terselamatkan dengan kehadiran saudara Ariz yg ternyata menunggu kereta yang sama dengan kami Sembrani, dan berada di gerbong yg sama. Namun aku tetap meminta Ariz untuk tinggal dan mengantarkan ke dalam kereta. Dan saat kereta itu datang, di stasiun Tawang sudah terdengar lagu Gambang Semarang. Setelah Ariz mengantarkan hingga kedalam kereta, kami saling mengucapkan selamat berpisah dan dia pun pergi.

Dan keretapun berangkat dengan diiringi Gambang Semarang, hingga tidak terdengar lagi. Tiba-tiba ada suasana haru dan sedih, teringat semua hal yang pernah kami alami, dan aku tidak tahu kapan lagi aku akan datang ke kota ini. Dan entah kapan lagi aku bisa bertemu dengan mereka lagi, tapi satu hal pasti aku sangat senang memiliki sebuah kenangan yang tidak akan kulupakan...

Sampai ketemu Semarang, sampai jumpa Salatiga..saatnya kembali ke Jakarta.

Selasa, 25 Oktober 2011

SALATIGA DALAM KENANGAN (2)

Jam 10 pagi kami dijemput. Dan rombongan kamipun bertambah. Ada Echa, Panjoel, Caca. Tujuan pertama kami adalah ke rumah alm temen Evi di beringin. Kami bertamu bertemu dengan orangtua dan adik almarhum. Sungguh rumah yang Jawanis, adem dan masih bener-bener natural. Seperti saat aku ke toiletnya, sampai bingung mencari dimana letak keran, dan ternyata tidak ada keran!! Selama di kamar mandi ditemani alunan angin sepoi-sepoi dan daun-daun yang berguguran..hahaha..

Maksud hati ingin segera melanjutkan perjalanan kami yg masih banyak dan jauh, tapi tak dinyana mereka sudah mempersiapkan makan siang. Lauk pauknya sangat banyak. Ada sayur daun pepaya yang diberi bumbu cabe merah, tapi tidak pedas dan anehnya tidak pahit. Lalu ada daging sapi dibumbui seperti gudeg gitu, lalu ada ikan goreng, kerupuk, sop..saking banyaknya aku lupa ada apa lagi, ada buah semangka yang merah-meranum. Lebih serunya lagi kami makan sambil lesehan. Benar-benar makan siang yang lezat. Walau agak sungkan karena aku tidak biasa makan lesehan, tapi nikmat juga. Thank God! Sebelum pulang kami berdoa dulu.

Perut kenyang dan perjalananpun dilanjutkan ke kampus Satyawacana. Akhirnya aku menjejakkan kakiku di kampus ini. Seketika tirai kenangan terbuka. Aku seperti merasakan kehadiran mama dan papaku saat itu. Aku berfoto didepan nama kampus, walaupun mereka semua malu karna aku senorak itu, tapi ini memang janjiku akan berfoto didepannya. Bodo amat sama orang-orang, aku tidak kenal mereka kok..:)) Habis itu aku MMS bang Justin..no reply, seperti biasa..:((

Kami mengelilingi tapi tidak seluruhnya. Namun aku cukup puas menikmati udara dan suasana kampus itu. Sayang, aku tidak menemukan lagi pohon tempat mereka berdua berfoto. Ntah dimana mereka berfoto, apakah di kampus itu atau di tempat lain..selesai aku bernostalgia dan kita langsung capcus..lanjuuuttt!!!

Next destination..Bandungan dan Goa Maria Kerep Ambarawa!! Karna kami akan menjemput satu temenku Tika namanya, maka formasi dimobil dirubah. Aku duduk depan. Selama dijalan aku gak ngerti mereka ngobrolin apa, karna semuanya memakai bahasa Jawa. Apalagi yang namanya Caca..pusing kepalaku. Dan satu yang aku sadari bahwa jika orang-orang mengatakan selama ini kalau orang jawa itu bicaranya halus-halus, itu salah saudara-saudara. Dan kalau ada yang mengatakan suara paling kencang itu orang batak, lebih salah lagi saudara-saudara, karna sebenernya orang jawa juga tidak kalah kencangnya..HAHAHAHA!!

Sempat hujan turun saat kami diperjalanan, tidak deras sih tapi cukup membuat kami ragu untuk melanjutkan perjalanan. Sang supir sudah memaksa untuk kembali ke kota saja, tapi aku sudah mulai kecewa dan berdoa terus agar hujannya berhenti. Tapi tampaknya tidak ada yang bisa menghentikan si supir, dan aku bisa apa? Hanya tamu, dengan kecewa aku mengikutinya. Belum jauh berbalik, dia putar balik lagi kembali ke arah Bandungan. Aku kaget dan saat kutanya, dia hanya mengatakan, “Berharap disana tidak hujan.” Dan puji Tuhan semakin kesana semakin kering, tidak hujan, cuacapun cerah lagi walau agak mendung. Akhirnya aku bisa menikmati pemandangan indah yang kami lewati dari jendela mobilku. Wah..bener-bener bagus, sayang agak susah untuk memotretnya, ditambah dengan Ariz membawa mobilnya kencang sekali. Tapi aku tetap bisa menikmatinya. Dan bersyukur Ariz putar balik kembali.

Kami tiba di Bandungan. Aku dibelikan gemblong cotot alias gemblong goreng, rasanya enak seperti ubi goreng. Slama ini aku hanya tahu gemblong yang dilumuri gula merah. Lalu kami beli klengkeng, lumayan besar-besar, tapi harganya sama saja dengan di Jakarta. Tiba-tiba berubah rencana. Mereka mengajak ke Candi Gedong Songo. Aku baru teringat Lena mengatakan padaku sebelum pergi untuk mengunjungi tempat wisata ini. Dan pucuk dicinta ulam tiba, benar sampai disana. Udaranya mulai berbeda, mirip udara puncak gitu. Mobil kami seperti naik gunung saja, klo arah datang sebelah kiri lereng curam, sebelah kanan tebing dan pohon-pohon. Entah sampai ketinggian berapa, akhirnya kami tiba juga. Dan rupanya Candinya itu jaraknya satu dan lain jauh juga. Dan membutuhkan seharian penuh untuk bisa mencapai Candi Songo (ke-9) tapi karna kami tdk ada yg mempersiapkan diri untuk ke atas, maka kami hanya sampai Candi Siji (ke-1) dan kebetulan disitu viewnya sangat bagus dan mulailah bernarsis2 ria..saat mataku memandang jauh ke arah gunung dan lereng itu, hatiku berbisik, ”And I think to myself..what a wonderful world!!”

Turun dari sana, sudah senja. Akhirnya kami menuju Goa Maria Kerep Ambarawa. Dan kami tiba saat makan malam. Disini banyak sekali dijual sate daging kelinci. Tidak semua makan daging kelinci. Aku selalu ingin explore tiap ada makanan baru, dan aku merasakannya..hmm..tidak jauh beda spt ayam, hanya lebih garing. Ntahlah benar daging kelinci atau tidak.
Ternyata disini buka 24 jam. Jadi semakin malam, tempat ini tidak tutup sama sekali. Mungkin mirip seperti Gereja Kathedral di Jakarta. Hanya disini diudara terbuka. Dan tidak menutup kemungkinan diluar kristen/katholik boleh ke tempat ini, karna memang terbuka untuk umum dan gratis. Saat kami tiba di depan lukisan Yesus dan Maria, kami semua berbaris kesamping duduk berdoa.

Angin sangat kencang dan dingin. Ada atmosfir yang beda ditempat itu, memang dikhususkan untuk berdoa. Aku mulai menundukkan kepalaku dan melipat tanganku, semenit kemudian sebening airmata hangat jatuh di pipiku. Tiba-tiba aku merindukan seseorang, seseorang yang kuharapkan dan kunantikan sejak dulu. Seperti film segalanya flash back, semua wajah muncul, semua wajah yang kucintai, semua wajah yang kuingat dan masih kuingat, semua wajah yang kubenci dan yang menyakitiku, semua wajah yang sudah tak dapat kulihat lagi. Dari antara semuanya aku merindukan satu wajah, yang aku belum menemukannya tapi aku sudah merindukannya, wajah yang aku nantikan selama ini, wajah yang aku butuhkan untuk dapat memandangku dengan sayang mengatakan bahwa,”Semuanya akan baik-baik saja.” Sekali lagi aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan menangis tergugu. Aku berharap, sejauh ini aku datang dan berdoa ditempat ini akan memberikanku hikmat dan jawaban doaku selama ini. Amin.

Ada kelegaan berdoa disitu. Sampai saat ini aku malah sudah terpikir ingin dapat berdoa disitu saat malam tahun baru ini. Tapi aku juga belum berani memikirkan rencana ini. Setelah puas berfoto-foto walau akhirnya hanya aku yang niat berfoto, dan walaupun remang-remang, tapi aku puas. Nampak pemandangan dibawah itu kota salatiga dengan lampu-lampunya yang bagus sekali. Sayang susah untuk difoto, karena sangat gelap. Kamipun kembali ke kota salatiga.

Next...karaoke time!! Saatnya gila-gilaan. Happy Puppy sedang penuh, tapi beruntung juga kami mendapat tempat walau small tapi boleh masuk dengan ditambah charge tentunya Rp.5.000,-/jam. Dua jam kami menyanyi sampai serak-serak, dari lagu galau, sedih, gembira, dangdut, semua dicoba. Sangat menyenangkan. Dulu pernah juga karaoke saat temenku resign. Karaoke rame-rame, tapi tidak serame ini. Bener-bener gila. Hanya Evi yang kalem. Tapi aku tak peduli, aku memang suka menyanyi dan kami semua menyanyi seperti orang gila, biarpun suara sudah habis tetep aja teriak2 dana tidak peduli. Unforgettable moment..!!

Cacaa harus pulang duluan. Dan tidak terasa sudah tengah malam, sedangkan besoknya kami masih harus melanjutkan perjalanan, dan ini adalah malam terakhir kami di salatiga. Selesai karaoke, Echa kebetulan ingin ikut menginap di hotel bersama kami, jadi kami kerumahnya dulu menunggunya mengambil barang-barang. Sebelum tiba di hotel, kami mencari Wedang Ronde. Minuman khas Salatiga. Sekali lagi aku melihat kota mati walau malam minggu. Dan akhirnya kami menemukannya di emperan toko dan satu-satunya. Kami minum wedang ronde sambil lesehan. Nikmatnyaaaa!!! Suara yang serakpun kembali seperti sediakala. Sudah jam 01.00 saat kami kembali ke hotel. Badanku penat, tapi hatiku senang. Terima kasih Tuhan untuk hari yang indah...^_^ Semoga hari terakhir besok lebih menyenangkan lagi. Selamat malam salatiga..

Minggu, 23 Oktober 2011

SALATIGA DALAM KENANGAN (1)

“September ceria..september ceriaaa..” demikian tembang lawas yang dinyanyikan oleh biduanita Vina Panduwinata. Namun apa yang aku rasakan adalah Oktober ceria...:)) Tanya kenapa? Begini kisahnya :
Sudah lama aku ingin ke Salatiga, Jawa Tengah. Kalau dilihat orang-orang lebih memilih ke Yogyakarta ketimbang ke Salatiga. Kota ini demikian kecilnya sehingga tidak begitu terkenal apa saja yang ada didalamnya. Aku hanya pernah diceritakan temanku kalau Salatiga itu kota pelajar dan banyak umat kristianinya, karna disitu ada Universitas Kristen Satyawacana.

Berkenaan dengan kampus ini, alm papaku yang lahir di Banda Aceh dan besar di Lahat Sumatera Selatan, pernah mengecap pendidikan disini dan bekerja disini sebagai guru sejarah tingkat sekolah menengah umum atas (SMU sekarang) Jadi jelas saja kota ini menjadi kota bersejarah bagi  alm papaku, ditambah lebih bersejarah lagi saat beliau bertemu dan berkenalan dengan almarhumah mamaku yang saat itu sedang ditugaskan (mengajar atau training kurang jelas) di kota tersebut.  Akhirnya karna ada chemistry antara mereka, jadianlah dan menikahlah mereka di Medan, menetap di kota Malang tempat kelahiran ketiga abangku, barulah pindah ke Jakarta sampai akhir hayatnya. Saat papa setahun lagi menjelang pensiun dari kantornya, beliau merencanakan untuk menghabiskan uang tanda jasa dari kantor untuk bernostalgia ke tempat kenangan mereka yaitu kota Salatiga. Namun karna Tuhan berkehendak lain, sebelum semua itu terwujud maka papaku sudah mendahului kami semua. Dan kini 20 tahun kemudian, aku anaknya baru dapat mewujudkan keinginan mereka berdua.  Salatiga...I’m coming!!!

Temenku Evi punya rencana ke kota ini karna ada keperluannya menjenguk rumah alm temannya. Karna ajakan Evi lah, maka semuanya terjadi. Kami ingin naik pesawat tapi ternyata harga tiketnya masih melambung tinggi setelah Lebaran. Akhirnya kami memilih naik kereta ke Semarang, dan sempat kami panik karna tidak kebagian tiket pulang yang jam 4 sore dari Semarang. Tuhan sangat baik, menyediakan tiket kereta dari Surabaya jam 23.00 malam waktu Semarang. Kami pergi sore itu hari Jumat langsung dari Gambir. Kereta eksekutif kami namanya Sindoro. Sudah lama aku tidak naik kereta jarak jauh, terakhir kali itu tahun 1990 ke Malang transit Surabaya. Aku masih ingat namanya KA Bima, pake AC, mendapatkan makan siang dan makan malam, selimut, pokoknya enak deh. Dibanding sekarang (khususnya Sindoro) AC  kurang dingin, gak dapat makanan (dan ternyata semua kereta begitu) Tapi tetep aja ini merupakan pengalaman baru bagiku, jadi rada norak-norak gitu deh. Untung Evi tahan banting dengan kenorakanku..hahahahaha..kaca jendelaku retak seperti habis ditimpuk batu, tempat dudukku tidak bisa dimundurkan untuk tidur. Hanya satu yang menggembirakan, tidak jauh dari toilet.

Kami tiba di Semarang jam 23.30 lebih lambat satu jam dari jadwal di tiket. Temanku Ariz menjemput kami di stasiun Tawang. Inilah kali pertama aku menjejakkan kakiku di Semarang. Saat kami naik mobil melewati kota semarang yang sudah terlelap, kami melewati kota tua yang disebut Ariz Kota Lama. Kesanku pertama Semarang itu tua, sepi dan suram karna lampu penerangan yang ada tidak begitu terang. Ternyata saat kami memasuki dalam kotanya, alun-alun, sepanjang jalan besar itu ramai sekali berkumpul klub motor, seperti Harley Davidson, Vespa, Ninja dll. Mereka saling membentuk komunitasnya sendiri yang kebanyakan anak kuliah. Barulah aku melihat sisi Semarang yang mirip dengan kota Jakarta. Namun kami saat itu langsung menuju hotel kami di Salatiga.

Hari sudah tengah malam saat kami melewati jalan yang menanjak dengan kanan kiri diapit dengan hutan, sebenarnya mirip seperti jalan ke Puncak, hanya tidak macet. Udara tidak begitu dingin. Kami memasuki kota Salatiga yang sunyi jam 00.30, tidak susah untuk mencari hotel kami yang letaknya di pusat kota, namun kalau ini jalan utama sangat berbeda dengan Jakarta dimana jalan utama itu tidak pernah tidur. Tapi saat itu kami seperti tiba di kota mati. Karena sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah kami tiba dikamar dan berpisah dengan Ariz yang pulang kerumahnya, kamipun mandi dan langsung terlelap, waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Besok akan menjadi hari yang panjang.

Pagi hari aku terbangun jam 06.00. Langsung aku tersadar kalau ini bukan di kamarku. Evi juga sudah bangun. Setelah cuci muka dan sikat gigi, hanya dengan memakai kaos dan celana pendek, tidak bawa apa-apa, aku mengajak Evi untuk jalan-jalan melihat suasana kota Salatiga di pagi hari.

Apa yang aku lihat sangat berbeda dengan semalam. Kota yang semalam seakan mati, pagi ini sangat ramai. Banyak orang yang sudah berjualan, dan ada juga yang masih sarapan. Hotel kami menyediakan sarapan, tapi kami jadi tergiur dengan sarapan yang dijajakan. Dan lebih enaknya lagi mereka makannya sambil lesehan. Aku bertekad besok pagi aku harus merasakan jajanan di pagi hari ini.

Maksud hati ingin berjalan dekat-dekat saja, tapi ternyata kaki ingin melangkah terus menyusuri kota. Evi merasa kenal dengan satu jalan yang ternyata menuju rumah saudaranya. Setiba kami disana, kami disuguhi teh manis hangat aroma melati, cocok sekali dengan udara Sabtu pagi yang sejuk. Nampak kejauhan gunung yang sangat indah sekali. Sayang sekali tidak membawa kamera, namun seketika aku jatuh cinta pada kota kecil ini.

Sabtu, 26 Februari 2011

AKU DAN MASA KECILKU (2)

                Aku bersyukur dikursuskan Electone/Organ, karena ternyata sampai hari ini aku bisa tampil dimana saja, acara apa saja dari yang santai sampai resmi. Aku bisa menghasilkan uang dari talenta yang diberikan Tuhan ini. Walau pada awalnya aku lebih ingin dimasukkan kursus menyanyi, menari dan teater, yang pada masa itu yang terkenal adalah Teater Shangrila dan Pranajaya. Tapi kata mama kalau kursus menyanyi itu mahal, dan lagipula papaku lebih suka wanita yang bisa main piano. O la la..ternyata papaku terlalu terobsesi sampai-sampai dia rela membelikanku Organ tingkat dua yang pada saat itu sudah mahal.
               
            Mamaku bersaudara banyak, kalau tidak salah ada 12 bersaudara. Rata-rata sih semuanya orang kaya, ada yang dokter, ada yang hakim atau bekerja di Pemda. Nah ceritanya mereka ini saling berlomba-lomba dalam memamerkan kekayaan. Lucunya nih, saat yang satu ada yang beli Organ, yang lain mengikuti membeli  tipe yang lebih tinggi. Yang satu beli piano, semua beli piano. Yang satu kursusin anaknya Piano dan Organ, semuanya juga, tapi sayangnya semuanya hanya pajangan aja demi gengsi. Aku suka gak tega melihat benda-benda itu dibiarkan rusak sedikit demi sedikit. Dari barang besar sampai-sampai yang satu beli kaset video The Sound of Music, film yang pada masa itu sangat booming semuanya beli juga. Aku sangat ingat sekali hal ini, dan hanya keluargaku yang tidak bisa mengikuti yang lainnya. Kita hanya memiliki organ setingkat dengan tombol yang sedikit, itu juga belinya agak susah. Sampai akhirnya kami baru bisa membeli Electone tingkat dua dengan tukar tambah, itu juga karena aku sudah mulai kursus jadi biar bisa dipakai latihan. Keluargaku adalah yang paling akhir dari semuanya, dari beli Organ, Televisi berwarna, Piano sampai akhirnya Mobil. Tapi aku tidak pernah merasa minder sekalipun, aku malah lebih salut pada kedua orangtuaku. Dan aku sangat mensyukurinya.
                
            Maka tibalah saatnya aku diberikan kesempatan untuk main Organ di ibadah hari minggu gerejaku. Saat itu aku masih duduk di kelas 6, masih kecil, dan karena box organnya besar sekali sehingga badanku tenggelam dan semua jemaat tidak ada yang bisa melihat pemain musiknya. Aku ingat sekali betapa gemetarnya kakiku dan tanganku sedangkan kakiku harus menginjak pedal, dan kalau gemetaran apa jadinya suara yang keluar. Tapi Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar. Setelah hari itu aku semakin mendapat banyak tawaran main dimana saja, dari mengiringi acara pernikahan, natal, ulangtahun. Lebih banyak sih pernikahan dan natal, kalau acara kedukaan belum pernah selain mengiringi kepergian papaku. Lucu juga ya, karna profesi kita sering dituntut melakukannya walau keadaan sedang tidak memungkinkan. Seperti saat kepergian papaku, aku diminta untuk bisa tetap bermain mengiringi kebaktian di rumah dan di gereja. Hanya saat kepergian mamaku, aku tidak diperbolehkan untuk main organ di gereja walau aku ingin. Tapi saat kepergian abang sulungku, aku diminta main organ tapi aku tidak bisa melakukannya sama sekali.. Sungguh suatu profesi yang sulit karena melibatkan perasaan.
               
              Saat duduk dibangku SMA aku dipercaya untuk mengajar privat dari rumah kerumah. Pulang sekolah langsung mengajar. Ada murid yang cepat tanggap, ada yang lama sekali baru mengerti. Sungguh semua ini sebuah tantangan bagiku dan sekaligus membosankan. Akhirnya dengan alasan sekolah, aku berhenti dari mengajar. Aku lebih tertarik dengan acara-acara yang tidak memakan waktu lama. Namun semakin lama aku semakin jarang main didepan umum, karena aku harus ke Perancis.
                
             Papaku meninggal saat aku duduk dikelas 2 SMP, setelahnya aku masih tampil ditemani oleh mama tersayang. Namun sejak mama menyusul papa saat aku duduk di kelas 3 SMA, kegiatanku juga otomatis berhenti semuanya. Les Bahasa Perancis, Les Piano juga. Dan setelah dibujuk oleh Tanteku yang tinggal di negeri romantis itu, maka akupun bertekad meninggalkan Indonesia menuju negeri yang sejak lama aku impikan, negeri darimana namaku berasal. Dengan berbekal kesedihan karna kehilangan kasih sayang mama, maka aku berharap di Perancis akan mendapatkan kembali kasih sayang seorang Ibu dari adik mama.
               
                Abang sulungku, Ian berkata, “Kelak kau akan menyadari keluargamu adalah kami.” Dan saat aku lulus SMA dengan semangat aku melangkah pergi, meninggalkan semuanya, kenangan pahit dan manis di negeriku tanpa melihat sedikitpun bahwa sebenarnya keluargaku berat melepasku semuda ini untuk pergi ke negeri yang jauh. Dan akupun mengira ini adalah akhir deritaku dan aku akan menyongsong kebahagiaanku. Ternyata aku melakukan kesalahan besar. Kepergianku adalah kesalahan besar yang pernah aku lakukan. Namun tetap saja dalam segala kesalahan, maka akan ada pelajaran yang kuterima. Cukup pedih jika mengingatnya tapi aku bersyukur semua terjadi oleh karena izinNya.

(BERSAMBUNG)

Senin, 21 Februari 2011

My True Valentine...

             Kata orang bulan Februari itu bulan cinta. Banyak kejutan dan keajaiban cinta yang terjadi pada kita, baik itu dari sahabat, pasangan, orang tua bahkan mungkin dari orang lain yang tidak pernah ada dalam pikiran kita. Bagiku pribadi, aku suka dengan bulan Februari. Mungkin karna dibulan ini ada Tahun Baru Cina, ada Valentine’s Day. Yang terakhir disebutkan ini adalah sebagai puncaknya dari bulan penuh cinta ini. Banyak orang berharap (termasuk diriku) mendapatkan kejutan spesial dari seseorang yang spesial di hari ini,atau yang lebih seru di Valentine’s Eve.

             Dari tahun ke tahun, aku selalu berharap sesuatu yg sensasional tapi semuanya belum pernah terwujud. Kadang dulu saat aku punya pacar, justru gak ada tuh yg namanya romantisme dalam Valentine. Padahal aku ingin sekali-kali merasakan magisnya hari ini. Namun impian tidak pernah sesuai dengan kenyataan. Hingga akhirnya semua keinginan romantisme itu lama kelamaan memudar, apalagi daku tidak pernah menemukan laki-laki yang mengagungkan hari spesial ini. Aku bertanya-tanya,”Jangan-jangan hanya wanita saja yang memiliki perasaan lebih terhadap Pink Day ini.”

             Tahun ini Valentine jatuh di hari kejepit nasional diantara Perayaan Maulid dan Hari Minggu. Otomatis Valentine’s Eve jatuhnya hari minggu. Dan tahun ini pula nasibku masih sama seperti tahun lalu, jomblowati dan tetap berharap keajaiban cinta itu datang. Aku tidak tahu apakah ini dinamakan keajaiban. Yang pasti malam itu, aku menerima kejutan yang aku yakin dari Tuhan. Aku tidak tahu apakah ini yang disebut kebetulan, jika kita mendoakan seseorang untuk hadir dan saat kita mengucap kata Amin dan membuka mata kita, beberapa detik kemudian dia datang menghampiri dengan senyuman penuh magis. Aku tidak tahu apakah ini yang dibilang kebetulan jika orang tersebut adalah orang yang kita doakan jauh-jauh hari sebelumnya untuk berada disamping kita pada malam kasih sayang tersebut. Namun bagiku tidak ada suatu yang kebetulan. Sekecil apapun yang terjadi dalam hidup kita, tidak ada yang kebetulan. Dan entah apa yang membuatku untuk merasakan saat aku melihatnya datang menghampiriku dengan tersenyum, aku tahu saat itu bahwa dialah orang yang selama ini aku doakan untuk bersamaku di hari spesial ini.
Tidak ada kado, tidak ada kata mesra, tidak ada coklat, tapi ada kebersamaan, ada sukacita, ada doa bersama, bersekutu bersama sehingga aku mendapatkan arti Valentine yang sebenarnya dan yang seutuhnya. Bukan orang yang bisa diajak clubbing, atau dance atau nonton atau ke tempat-tempat romantis yang bisa diartikan mengerti makna Valentine, tapi dimana dia adalah orang yang bisa membawa kerendahan hatinya untuk mengasihi Sang Juru Selamat yang sudah memberikan KasihNya yang terbesar untuk manusia, karena kalau bukan DIA yang sudah berkorban untuk aku, dia dan kita semua, maka aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan dia.

                Banyak hal yang sempat membuatku iri. Ada temanku yang baru di”tembak” di bulan penuh cinta ini. Ada yang bertunangan, ada juga yang merayakan ulangtahunnya bersama sang pujaan hati. Aku merasa, bahwa kejaiban cinta itu hanya jatuh pada orang-orang sekitarku, teman-temanku tapi sepertinya melewatiku. Tapi kini aku tahu anggapanku salah. Keajaiban cinta itu jatuh padaku juga, betapa aku bersyukur memiliki keluarga yang bahagia dan menyayangiku. Aku memiliki pekerjaan yang kucintai. Aku memiliki sahabat yang setia dan perhatian. Dan terutama aku memiliki Sahabat, Bapa, Tuhan yang sangat mengasihiku seperti biji mataNya. Betapa kayanya aku bukan? Melebihi jumlah coklat-coklat yang diterima oleh teman-temanku, melebihi hadiah apapun.

               Bulan ini memang bulan cinta. Tapi bukan berarti bulan-bulan selanjutnya tidak ada cinta. Sebagaimana anak yang berharap kepada Ayahnya untuk dapat mengabulkan keinginannya, begitulah besarnya pengharapan dalam diriku saat ini. Aku percaya tidak ada yang tidak bisa diberikan oleh Bapaku, tapi sebagaimana Bapa sayang anaknya, maka apa yang diberikannya adalah yang terbaik, terindah, termanis, termulia indah pada waktunya. Mau bulan apapun, musim apapun jika Tuhan sudah menjadikannya semuanya akan penuh Love Love Love 100% garansi. Dijamin.

Jumat, 31 Desember 2010

Catatan di akhir 2010


Tinggal beberapa jam lagi tahun 2010 akan berakhir, dan aku baru menulis lagi. Dikarenakan begitu banyaknya yang harus kulakukan di hari yang lalu, maka sangat sulitlah kesempatan menulis kudapatkan. Dimana juga kondisi emosiku yang kurang stabil akhir-akhir ini, maka aku tidak akan bisa konsentrasi menuliskan apa yang ada dibenakku.
Tapi karena kurang afdol rasanya jika pada penutupan tahun tidak ada kata-kata yang aku sampaikan, maka aku menyempatkan untuk menuliskan perasaanku di akhir tahun ini.

Ternyata tidak ada berubah. Setidaknya belum ada yang berubah maksudku. Suasana tetap ramai, macet, berisik dengan suara terompet yang dikumandangkan asal-asalan oleh anak-anak kecil. Dan yang paling tidak (belum) berubah aku masih tetap jomblo. Entah apakah harus disyukuri, karena ajaran Tuhan Yesus mengatakan agar kita selalu bersyukur dalam segala keadaan kita. Tapi jujur aku tidak bersyukur sepenuh hati di malam tahun baru ini.

Selain masih jomblo, malam ini adalah malam yang mengharukan bagiku pribadi dengan ketidakhadiran abang sulungku tercinta yang sudah merayakan hari barunya bersama-sama dengan malaikat di surga. 

31 Desember 2009, adalah saat terakhir aku dan keluarga berkunjung ke rumahnya yang sepi. Tidak ada siapapun selain dirinya dan pembantu. Semua anaknya dan istrinya sedang beribadah malam tahun baru di gereja. Aku masih mengingatnya, aku melihatnya tergolek lemas tak berdaya, tapi dia masih bisa melihat kami adik-adiknya datang menjenguknya. Malam itu aku yang berdoa. Tidak ada yang dapat bertahan berdoa baginya kecuali diriku, mungkin juga karena aku adik paling kecil yang tidak mungkin menolak amanat untuk pimpin doa. Aku dapat melakukan dengan mulus, sedangkan kakak iparku mulai menangis. Tapi abang sulungku tercinta, dengan datar hanya mengatakan,”Baik-baiklah kalian ya..”

Dalam perjalanan pulang saat mobil kami melewati jalan layang tol, banyak orang-orang berkerumun dan memberhentikan mobilnya hanya untuk menikmati kembang api yang sedang dipancarkan dimana-mana. Mobil kami berjalan perlahan, dan aku melihat kembang api itu, ternyata sudah masuk tahun 2010, sekonyong-konyong hatiku sedih bukan kepalang. Di jok belakang mobilku, aku duduk sendirian dalam gelap sambil memandangi kembang api itu aku menangis sedih. Aku tiba-tiba merasakan bahwa thn 2010 akan menjadi tahun yang berat bagi kami. Aku teringat abang sulungku tercinta, dan aku sudah merasakan bahwa saat itu adalah malam tahun baru yang terakhir baginya di dunia ini. Tapi aku tetap berdoa untuk kesembuhan dirinya.

Sekarang sudah di penghujung tahun 2010. Apa yang aku rasakan di awal thn 2010 memang benar terjadi. Abang sulungku tercinta mendahului kami di pertengahan thn 2010 yaitu akhir bulan April dimana seharusnya jika ini adalah negara Eropa, dia pergi saat di musim semi, musim yang paling indah. 

Ada kelegaan juga saat dia pergi, karena kami percaya itu adalah yang terbaik baginya. Tapi tetap saja yang namanya kepergian orang yang dicintai itu selalu menyakitkan dan membekas dalam hingga sekarang. Sehingga sisa dari thn 2010, sedikit banyak aku mendedikasikan perasaanku untuk abang sulungku tercinta melalui tulisan, video dan sebagainya.

Dan kini aku masih disini, berdiri sendiri tanpa seseorang disampingku. Tadinya aku masih berharap akan mendapatkan Mujizat Natal bagi diriku sendiri. Tapi tampaknya thn 2010 ini akan berlalu sama seperti tahun-tahun sebelumnya.  

Aku tidak tahu akan bersikap bagaimana malam ini. Sebagai orang beriman, aku masih menaruh harapanku bahwa DIA akan menolongku dan menyelamatkan mukaku. Begitu banyak mujizat yang aku sudah rasakan, aku dapatkan, tapi belum ada yang berkenaan dengan hal pasangan hidupku. Aku dikaruniakan mendoakan orang lain dan mereka mendapatkannya, aku dikaruniakan mimpi tentang orang lain dan terjadi. Tapi belum ada yang terjadi untuk diriku sendiri.

Tahun 2010 ini beberapa sahabat memberi kabar akan melangsungkan pernikahannya di tahun 2011. Dan jujur aku tidak sanggup jika harus menghadirinya sendiri lagi. Semua orang bilang, “Persetan dgn semua itu, emang lo mau menikah asal-asalan? Emang lo kira menikah itu enak?”
Aku tahu banyak hal yang dapat kupelajari melalui pernikahan teman-temanku, abang-abangku dll. Tapi aku juga tidak sependapat untuk selibat, menghabiskan hidup  sendirian. Pemikiran macam apa itu? Tetap saja manusia itu memerlukan orang lain. Setegar-tegarnya orang, dia pasti memerlukan orang lain. Dan aku adalah salah satunya. Aku capek berdiri sendiri, aku capek menanggung beban sendiri.

Keinginanku sederhana. Aku ingin menikah dengan orang yang mencintaiMu. Karena orang yang mencintaiMu sungguh-sungguh, pasti mencintai diriku apa adanya dan aku juga mencintainya apa adanya. Kenyataan yang sering kualami adalah, dimana datang beberapa pria mendekatiku dan tidak lama kemudian bukannya semakin jelas malah semakin aneh. Aku tidak butuh banyak pria yang mendekatiku jika tidak ada yang jelas. Aku hanya butuh satu orang saja yang jelas tujuannya, tulus dan baik hati.

Doa ini sudah menduduki peringkat pertama selama hampir satu dekade. Karena selama  itulah aku berjalan sendirian. Dan mungkin malam ini aku tidak akan menaroh hal ini di tingkat paling atas lagi dalam doa malam tahun baruku walaupun aku tidak dapat membohongi Sang Maha Kuasa. 

Mungkin akan lebih ringan beban ini jika malam ini aku melewatkan dengan bersyukur saja atas yang aku alami selama thn 2010 ini dan memohon bimbingan dan perlindungan Tuhan di 2011, setelahnya aku akan membaca buku-buku yang baru saja kubeli kemarin lalu tidur dengan damai.

Selamat Tinggal 2010 & Selamat Datang 2011.. semoga impian itu akan menjadi kenyataan dan menjadi pembuka yang manis di awal tahun 2011...mari kita yang percaya katakan Amin!!

Senin, 20 September 2010

TERLALU BAIK… ATAU TERLALU BODOH….??


Hari ini agak berbeda. Mungkin Tuhan sedang menguji kekuatan hatiku, menguji kesabaranku, menguji kepercayaanku. Tapi yang pasti hari ini aku sangat merasakan kepenatan yang makin lama menyesakkan dada. Sebenarnya sederhana saja, semua orang selalu ingin dihargai, semua orang selalu ingin dimengerti, tapi nyatanya apa yang kudapat khususnya hari ini adalah..”Tolong ini dong..”,”Tolong itu dong..”.Emang ada kata-kata ‘Tolong’ yang disebutkan. Dan kalau dilihat artinya jika orang menyebutkan kata-kata ‘Tolong’ artinya orang tersebut butuh bantuan, memerlukan pertolongan yang dia sendiri tidak mampu mengerjakan. Tapi yang terjadi disini adalah, sebuah kata’ Tolong’ yang  berarti menyuruh, memerintah secara halus, secara sopan. Aku tidak pernah keberatan memberikan pertolongan pada siapapun yang memerlukannya. Selama aku bisa melakukannya,’Why Not?’ Namun terkadang pertolongan yang diminta terlalu sepele, seperti mengambil kertas yang di print padahal sebenarnya orang tersebut sanggup untuk mengambil sendiri, padahal orang itu sedang tidak ngapa-ngapain. Atau minta tolong padaku mengirim faksimil ke beberapa tempat dengan alasan konyol,”Gak tahu caranya kirim fax.” Mbok ya belajar kalau gak bisa, kok malah dengan bangga bilang,”Gak tau caranya.” Hari geneee tidak tahu cara menggunakan mesin faks..??Ckckckck..dashyat!! Tapi entah apakah hanya berlaku di Indonesia, ataukah ini adalah mentalnya orang Indonesia pada umumnya yang jika ditolong sekali malah ketagihan seperti narkoba. Bukannya malu, tapi malah keenakan,dan pura-pura bego sambil bilang, ”Lha kemarin kan kamu bisa tolong saya, apa salahnya lagi?” Atau,”Yah..daripada kamu gak ada kerjaan mending tolongin saya.” Nah inilah saudara-saudara, orang yang memberikan pertolongan cenderung dianggap karena gak ada kerjaan. Padahal klo aku pribadi, kadang karna aku pas bisa dan benar-benar urgent aku akan turun tangan, tapi bukan berarti bisa seenaknya untuk seterusnya, apalagi tanpa melihat situasi dan keadaan yang sedang aku alami, asal bicara tanpa dosa…wuihh!!!

Klo mau diikutin yang namanya makhluk bertanduk, mungkin kepalaku udah membubung sampai ke atap saking mendidihnya melihat manusia seperti itu. Hari ini saja aku sudah beberapa kali berusaha meredam amarah, emosi terhadap orang-orang yang “sangat mengasihiku” .  Itulah kenapa aku sangat menyukai cara orang bule istilahnya atau wong londo katanya. Walau aku hanya pernah enam bulan tinggal di Perancis, negara yang nasionalismenya tinggi, aku melihat cara mereka sangat jujur, tidak bertopeng seperti disini. Aku sangat tertegun saat aku sedang berjalan di tepi jalan di tengah kota entah kenapa aku terpeleset (mungkin saking terpesona dengan keindahan bangunannya yang kokoh)dan diantara orang-orang yang sedang lewat atau berjalan, ada seorang lelaki yang dengan cepat mendatangiku dan bertanya,”Qu’est-ce qu’il y a,mademoiselle?Ca va? ” (Ada apa nona? Tidak apa-apakah?) kenapa aku tertegun? Karena sejak dari Indonesia sudah ditanamkan jika orang bule itu individualismenya tinggi, seakan-akan artinya masa bodoh. Tapi ternyata tidak sama sekali. Memang mereka tidak pernah mau mencampuri urusan orang lain, tapi saat ada yang benar-benar butuh bantuan mereka tuh cepat menanggapi! Justru di Indonesia khususnya yang memiliki individualisme yang tinggi. Bagaimana tidak, aku pernah melihat ada ibu-ibu hamil jatuh atau naik trans jakarta berdiri tapi semua mata yang duduk cuek banget, masa bodoh..pasti mereka berpikiran sama,”Ah..biar cowok/cewek yang disana itu aja yang beri pertolongan.” Atau,”Aku pura-pura tidur saja,” atau meyakinkan diri “Aku tidak melihat..” padahal katanya Indonesia itu umat beragama, coba bandingkan dengan Perancis yang penduduknya atheis tapi justru bisa memberikan contoh Kasih seperti yang diajarkan Tuhan.

So..kembali lagi ke masalah tolong menolong. Perlu ditanya lagi dalam hati kita, jika kita memberikan pertolongan apakah karena kita terlalu baik? Atau terlalu bodoh?
Sepanjang hari ini hingga saat ini aku berdoa meminta agar aku dijauhkan dari segala amarah dan emosi yang ditimbulkan oleh orang-orang sekitarku terutama dengan rekan-rekan kantorku. Aku tidak minta menjadi paling hebat, paling benar, paling pintar, tapi aku hanya minta pada Tuhan agar tidak direndahkan walaupun posisiku nyaris tak bernama, aku masih mempunyai hati dan perasaan. Biarpun pekerjaanku mungkin tidak bernama atau yang disebut istilah dikantorku,”Kerjaan Monyet.” Artinya gak penting banget pekerjaannya, tapi aku harus kerjakan karena kalau bukan aku siapa lagi donk?
Tolong bantu aku, jangan jadikan aku selalu bertanya,”Apakah selama ini aku membantu karena terlalu baik atau terlalu bodoh?” Karena pada dasarnya aku tulus menolong.

Akhir cerita, seperti yang dikatakan dalam Alkitab,”Kesusahan sehari cukuplah sehari..” maka aku menutup hari ini dengan kesusahannya sendiri. Walau apapun keadaanku saat ini, aku tetap bersyukur atas semuanya, aku bersyukur untuk teman-temanku yang walaupun sebagian besar memiliki mental nge-bossy, tapi ada juga sebagian yang mengerti dan bisa diajak kerjasama, Tuhan memang adil. Untuki itu jika ada yang membaca tulisan ini dan tersinggung, maafkan..karena aku tidak bisa membohongi isi hatiku apalagi untuk menulis. Kita orang Indonesia sangat lucu, ada sebagian dari kita yang suka meniru cara-cara hidup orang bule, tapi yang negatifnya. Yang positifnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Orang yang apa adanya tidak akan pernah menahan duri dalam dagingnya dan tidak pernah menanam dendam dalam hatinya. Jika kita tidak bisa jujur dalam berkata-kata, tidak ada gunanya kita menulis. Semua hanya kepalsuan layaknya kehidupan kita juga adalah kepalsuan belaka.


Habis keramas sambil mendengarkan alunan Saxophone Alm.Embong Rahardjo dalam lagu “Ku Tak akan Menyerah.”